|
tulisan ini, lagi2 bersumber dari Palas saya, seperti yang sebelumnya (ikhlas dan ikhtiar).
sebenarnya, sejak kuliah, saya sudah sering mendengar istilah guru yang baik dan guru yang benar ini. termasuk, makna2 di dalamnya. tapi kemarin, ketika palas yang bicara rasanya mengena sekali. mungkin karena pembicaraannya pas ketika saya mengalaminya*.
kira2 berikut percakapan saya dengan palas. Palas (P) : kamu ingin jadi guru yang baik atau guru yang benar? tapi sebelum saya jawab, palas berkata, "tentu kamu ingin jadi guru yang baik dan benar, kan?". saya (E): iya, pak P: tapi itu tidak mudah, tidak banyak guru yang bisa seperti itu. saya yang sudah puluhan tahun mengajar saja susah, E: iya pak, tentu saja tidak mudah. yang penting terus belajar pak. P: iya betul. tapi kalau kamu disuruh memilih menjadi guru yang baik atau guru yang benar, mana yang akan kamu pilih.
Saya terdiam, berpikir. lalu saya bilang guru yang benar P: bagus. tapi kamu sudah tahu bedanya guru yang baik sama guru yang benar itu apa? E: tahu pak. kalau guru yang baik itu guru yang baik, tidak pernah marah pada muridnya, walaupun terkadang itu tidak benar. guru yang benar adalah guru yang mengajarkan dan mendidik kebenaran pada murid2nya. memuji bila muridnya benar, dan menasihatinya bila salah. P: benar. tapi saya tahu kalau kebanyakan guru lebih memilih untuk menjadi guru yang baik, karena lebih mudah. lebih mudah dilakukan, karena tidak usah susah2 menasihati murid. selain itu pasti lebih disukai murid. termasuk guru di sekolah ini. kamu pasti sadar bahwa di sini lebih banyak guru yang baik. tapi kamu harus tahu bahwa kebaikan yang diberikan guru2 yang baik itu semu. saking baiknya, mereka membiarkan anak2 mengobrol di saat jam belajar. tidak memperhatikan dan tidak mengerti. karena tidak mengerti, akhirnya murid2 mencontek ketika ulangan, dan saking baiknya guru yang baik ini membiarkannya. lalu, ketika si murid semakin dewasa dan sadar bahwa tidak ada hal di dunia ini yang bisa diperoleh dengan mudah,. si murid ini akan sadar bahwa guru yang benar itu yang benar. bahkan, mungkin saja kelak si murid ini berpikir bahwa jika semua guru adalah guru yang benar, maka pasti ia akan bisa mulai berdisiplin sejak dini, dan akan terbiasa ketika dewasa.
saya, yang sebelumnya sempat merasa down karena merasa tidak mampu menghadapi murid2 saya yang (awalnya) luar biasa hiperaktif, jadi semangat lagi mendengar kata2nya. sebelumnya, saya sempat berpikir untuk jadi guru yang baik saja, yang penting disenangi murid. tapi setelah saya pikir lagi, saya rasa guru yang baik bukan di senangi murid, tapi dimanfaatkan murid (maaf kalau agak kasar, tapi saya rasa begitu). seorang guru adalah manajer di kelas. maka ia harus dapat mengatur kelasnya agar pembelajaran berlangsung efektif. dengan menjadi guru yang benar, yang tahu kapan waktu bermain/bercanda di kelas dengan waktu untuk serius belajar. dengan menerapkan sistem reward dan punishment, murid akan tahu konsekuensi dari setiap hal yang mereka lakukan di kelas saat pembelajaran berlangsung.
* ket: dalam hal ini, saya baru mengajar di sekolah itu. sekolah itu sekolah bagus. saya adalah guru pengganti. sayangnya, murid2nya biasa dibebaskan sebebas-bebasnya, sehingga awalnya saya kesulitan mengajar di situ. dan si palas sepertinya tahu, maka ia sering mengajak saya
dikyip dari The Jargon |